NobleBlocks

State University of Padang

UniversityPadang, Indonesia

Research output, citation impact, and the most-cited recent papers from State University of Padang (Indonesia). Aggregated across the NobleBlocks index of 300M+ scholarly works.

Total works
49.5K
Citations
301.9K
h-index
109
i10-index
7.1K
Also known as
State University of PadangUniversitas Negeri Padang

Top-cited papers from State University of Padang

Relevansi Kurikulum Merdeka Belajar dengan Model Pembelajaran Abad 21 dalam Perkembangan Era Society 5.0
Ambiyar Ambiyar, Nizwardi Jalinus, Waskito Waskito, Agariadne Dwinggo Samala +2 more
2022· EDUKATIF JURNAL ILMU PENDIDIKAN430doi:10.31004/edukatif.v4i2.2589

Society 5.0 adalah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0 seperti Internet on Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Era ini menjadi peluang sekaligus tantangan baru bagi siswa untuk meningkatkan soft skill sebagai persiapan di masa yang akan datang. Telah diketahui secara bersama bahwa kurikulum merupakan “nyawa” dalam pendidikan. Kurikulum hendaknya perlu dievaluasi secara dinamis dan berkala mengikuti perkembangan zaman terutama IPTEK. Kurikulum juga disusun dengan memperhatikan kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan lulusan. Kurikulum Merdeka Belajar merupakan salah satu kebijakan baru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbud Ristek RI) yang ditujukan untuk mewujudkan proses pembelajaran yang inovatif dan mengikuti kebutuhan siswa (student-centered). Era Society 5.0 berlangsung pada Abad 21 yang dimana merupakan kejayaan dunia digital. Model pembelajaran abad ke-21 juga menuntut siswa untuk mencapai keterampilan 4C yaitu critical thinking, communication, colaboration, and creativity. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini didapat dari kajian beberapa literatur. Hasilnya menjelaskan bagaimana relevansi kurikulum merdeka belajar dengan model pembelajaran abad ke 21 di perkembangan era society 5.0.

PENDIDIKAN DAN TANTANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Syamsuar Syamsuar, Reflianto Reflianto
2019· E-Tech Jurnal Ilmiah Teknologi Pendidikan364doi:10.24036/et.v2i2.101343

Paper bertujuan memaparkan pendidikan dan tantangan pembelajaran berbasis teknologi informasi di Era Revoulusi Industri 4.0 dan kesiapan indoensia menjawab tantangan pendidikan era revolusi industri 4.0 dalam membangun system pembelajaran berbasis teknologi informasi. Di Indonesia kesiapan menghadapi tantangan pendidikan era revolusi industri 4.0 adalah segera meningkatkan kemampuan dan keterampilan sumberdaya manusia Indonesia melalu pendidikan dengan melahirkan operator dan analis handal bidang manajemen pendidikan sebagai pendorong kemajuan pendidikan berbasis teknologi informasi di Indonesia menjawab tantangan Industri 4.0 yang terus melaju pesat. Kebijakan manajemen pendidikan di Indonesia saat ini mendorong seluruh level pendidikan, terutama pendidikan tinggi untuk memanfaatkan kemajuan teknologi digital dan komputasi pendidikan era revolusi industry keempat. Beberapa solusi yang bisa dilakukan antara lain, kesesuaian kurikulum dan kebijakan dalam pendidikan, kesiapan SDM dalam memanfaatkan ICT, mengoptimalkan kemampuan peserta didik, dan mengembangkan nilai - nilai (karakter) peserta didik, serta dan kesiapan sarana dan prasarana pembelajaran berbasis digital. Key words: Pendidikan, Pembelajaran Bervasis Teknologi Informasi, Revolusi Industri 4.0

Environmental education and disaster mitigation through language learning
Syahrul Ramadhan, Elfia Sukma, Vivi Indriyani
2019· IOP Conference Series Earth and Environmental Science326doi:10.1088/1755-1315/314/1/012054

Abstract This study aims to determine the knowledge of the environment, attitudes towards the environment, and skills in designing learning that contains the environment of prospective language teachers. In addition to the environment, this research also links environmental learning with disaster mitigation. This study uses a survey method. The instrument used was a questionnaire in the form of a question sheet consisting of twelve questions relating to the attitudes and knowledge of prospective teacher students regarding environmentally charged learning and disaster mitigation. The results of the study indicate that students still need to improve knowledge about the environment and disaster mitigation to be able to design language learning with environmental education and disaster mitigation. When becoming a teacher, scholar have been able to integrate environmental education and disaster mitigation to provide students with an understanding of it and foster an attitude of environmental awareness and care for the environment.

Konsep Kecemasan (Anxiety) pada Lanjut Usia (Lansia)
Dona Fitri Annisa, Ifdil Ifdil
2016· Konselor315doi:10.24036/02016526480-0-00

Lanjut usia merupakan tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia yang merupakan suatu proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Perubahan-perubahan fisologis maupun psikososial, akan berpotensi pada masalah kesehatan baik fisik maupun psikologis. Salah satu masalah psikologis yang sering terjadi pada lanjut usia pada kondisi kehidupan sosial adalah kecemasan. Kecemasan diartikan suatu kondisi emosi yang menimbulkan ketidaknyamanan ditandai dengan perasan khawatir, kegelisahan dan ketakutan sehingga dapat mengganggu kehidupan. Naskah ini mencoba untuk kemaparkan konsep kecemasan dan aspek yang terkait dengan kecemasan yang dialami lansia secara umum dan panti jompo secara khusus.

Konsep Stres Akademik Siswa
Mufadhal Barseli, Ifdil Ifdil, Nikmarijal Nikmarijal
2017· Jurnal Konseling dan Pendidikan284doi:10.29210/119800

Siswa yang mengalami stres akademik memiliki persepsi yang maladaptif terhadap tuntutan akademik. Stres akademik adalah persepsi subjektif terhadap suatu kondisi akademik atau respon yang dialami siswa berupa reaksi fisik, perilaku, pikiran, dan emosi negatif yang muncul akibat adanya tuntutan sekolah atau akademik. Hal ini menunjukkan perlu adanya upaya guru Bimbingan dan Konseling atau konselor untuk melakukan pengembangan pada praktik pelayanan Binbingan dan konseling untuk meningkatkan kualitas atau potensi siswa dalam mengantisipasi muculnya stres akademik siswa dan faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya stres akademik. Naskah ini akan mengenalkan konsep dasar stres akademik siswa meliputi; konsep stres, konsep stres akademik, faktor yang mempengaruhi stres akademik, gejala-gejala stres akademik, respon stres akademik. Semoga ini dapat digunakan sebagai salah satu rujukan.

Pentingnya Orang Dewasa Awal Menyelesaikan Tugas Perkembangannya
Alifia Fernanda Putri
2018· SCHOULID Indonesian Journal of School Counseling239doi:10.23916/08430011

Dalam menghadapi kehidupan orang dewasa awal wajib menyelesaikan tugas perkembangannya agar dalam menjalani kehidupan sehari-hari tidak mengalami masalah yang berarti serta tidak mengganggu proses masa perkembangan selanjutnya. Masa dewasa awal merupakan transisi dari masa remaja yang masih menjalani kehidupan yang hura-hura menuju masa yang menuntut akan rasa tanggung jawab. Perkembangan masa dewasa awal ini di mulai saat seseorang menginjak pada umur 19 tahun sampai 25 tahun. Tidak dipungkiri dalam masa dewasa awal sangat rentan mengalami permasalahan, hal ini bisa saja dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal seperti faktor lingkungan, masyarakat, teman sebaya dan lainnya. Dalam masa dewasa awal banyak sekali masalasah yang dihadapi dalam menjalani kehidupannya, baik dari segi individu, sosial, fisik, budaya maupun yang lainnya. Oleh karena itu sangatlah dibutuhkan peran maupun bantuan dari seorang guru BK atau konselor dalam membimbing orang dewasa awal dalam melaksanakan tugas perkembangannya agar orang dewasa awal bisa menyelesaikan tugas perkembangannya dengan seoptimal mungkin agar mendapatkan kehidupan yang bahagia kedepannya.

TANTANGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA REVOLUSI 4.0
Laurensius Arliman S
2021· Ensiklopedia Sosial Review237doi:10.33559/esr.v2i3.647

Today there are more and more challenges of civic education in education, from elementary to tertiary education. This happens because education is increasingly developing in accordance with the development of pressology. Of course, this matter no longer recognizes national boundaries based on time and space. Technology today can help people meet from any country. For this reason, this article wants to see how the development of civic education in the revolutionary era 4.0 and the future challenges related to civic education in the revolutionary era 4.0. The research method used in this article is a quantitative educational method, supported by comparative materials from books and journal articles. The results show, First, the development of citizenship education in the revolutionary era 4.0 follows the times and technology, so that more flexible rules are needed and in accordance with the needs of citizens of the Republic of Indonesia. Second, the future challenge related to civic education in the revolutionary era 4.0 is to introduce what are the rights and obligations of citizens, so that citizenship education is mandatory to be taught at any level of education in Indonesia.

Integration of environmental education in elementary schools
Elfia Sukma, Syahrul Ramadhan, Vivi Indriyani
2020· Journal of Physics Conference Series233doi:10.1088/1742-6596/1481/1/012136

Abstract This study aims to determine the opinions and knowledge of teachers regarding the integration of environmental education in the learning process in the classroom for elementary school students. This research uses survey method. The instrument used was a questionnaire consisting of fifteen questions and four additional statements relating to environmental education in the learning process. The results showed that the majority of teachers agreed that it was important to integrate environmental education in the learning process for students, especially elementary school students. However, this integration still has constraints, such as insufficient time. Based on the results of the analysis shows that for elementary school level, science learning is the most likely learning to be integrated with environmental education in the learning process.

CANVA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA MATA PELAJARAN DASAR LISTRIK DAN ELEKTRONIKA
Rahma Elvira Tanjung, Delsina Faiza
2019· Voteteknika (Vocational Teknik Elektronika dan Informatika)216doi:10.24036/voteteknika.v7i2.104261

This research was conducted to find out the feasibility of using canva learning media in Basic Electrical and Electronics subjects in class X Cooling and Air Conditioning Engineering at SMK Negeri 3 Pariaman in the academic year 2018/2019. The research method used is the research development of the Instructional Development Institute. The research instrument used was a questionnaire. Respondents in the questionnaire were experts, teachers, and students. In canva learning media, the validity, reliability and practicality of the media are tested. Based on the results of validation by experts and teachers, the average value of validation is 0.83 which is at the validity value of ≥0.667, so it is in the valid category. In the media reliability test, the Cronbach's Alpha value was 0.731, so the criteria for media reliability were in high criteria. In the practicality test of the media by teachers and students, the average values were 90% and 86% respectively, so the practicality category of the media was in the very practical category. Based on the results of the three tests it can be seen that canva learning media is feasible to use in the learning processKeywords: Canva Learning Media, Media Validity, Media Reliability, Media Practicality.

Pemerolehan Bahasa Pertama pada Anak Usia Dini
Indah Permatasari Suardi, Syahrul Ramadhan, Yasnur Asri
2019· Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini215doi:10.31004/obsesi.v3i1.160

Penelitian ini bertujuan memaparkan pemerolehan bahasa anak usia dini dalan proses pemerolehan bahasa melalui apa yang di dengar dan di praktekkan dengan bahasa dan komsonan kata yang mereka miliki. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif karena penelitian ini memaparkan hasil penelitian berdasarkan fakta yang ada dalam kehidupan sehari hari penuturnya dan proses pemerolehan bahasa pada aspek fonologi anak. Data yang diperoleh adalah hasil penelitian melalui observasi, catatan harian, dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan objek sudah menguasai huruf-huruf vokal [a], [i], [u], [e], [?] dan [o]. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa pada anak dalam aspek fonologi di pengaruhi faktor lingkungan khususnya keluarga hal tersebut ditandai dengan banyaknya pembendaharaan kosakata yang mereka dapatkan di lingkungan keluarga dan sekitar. Anak juga sudah bisa mengujarkan beberapa kata benda, kata kerja, dan kata sifat

Service quality, religiosity, customer satisfaction, customer engagement and Islamic bank’s customer loyalty
Abror Abror, Dina Patrisia, Yunita Engriani, Susi Evanita +2 more
2019· Journal of Islamic marketing211doi:10.1108/jima-03-2019-0044

Purpose The purpose of this study is to investigate the influential factors of customer loyalty to Islamic banks, namely, service quality, customer satisfaction, customer engagement and religiosity. Design/methodology/approach This study is a survey of 335 Islamic bank customers in West Sumatra, Indonesia. This research deployed purposive sampling and analyzed the data by using covariance-based structural equation modeling. Findings Service quality has a positive and significant impact on customer satisfaction. Religiosity has a significant and negative moderating impact on the service quality–customer satisfaction relationship. Service quality has no significant influence on customer loyalty. Customer satisfaction is a significant antecedent of customer engagement and loyalty. Finally, customer engagement has a significant and positive effect on customer loyalty. Research limitations/implications This study is a combination of cross-sectional and a single-country case. Accordingly, the results may not be representative of other countries. Similar studies in longitudinal data collection are conducted in other countries (e.g. ASEAN countries), which would therefore be worthwhile. Some antecedents of customer loyalty have been neglected in this study (e.g. customer value co-creation and customer commitment); hence, the future study may investigate those factors. Practical implications By considering these Islamic banks’ antecedents, the Islamic banks might enhance their customer loyalty. Also, this study has revealed the moderating role of religiosity in a loyalty relationship. Therefore, it will give insights for the Islamic bank managers in decision-making. Originality/value This study has revealed the moderating role of religiosity on the link between service quality and customer satisfaction in Islamic banks, which is, to the authors’ knowledge, neglected in the previous studies. The customers with high religiosity will have a higher standard of satisfaction and demand a better service quality than the customers with low religiosity. This study has also examined the relationships between service quality, religiosity, customer satisfaction, customer engagement and loyalty as a whole, which have been limited previously.

PERBEDAAN INDIVIDU DARI GAYA BELAJARNYA SERTA IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN
Maria Magdalena Zagoto, Nevi Yarni, Oskah Dakhi
2019· Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran201doi:10.31004/jrpp.v2i2.481

Setiap manusia diciptakan oleh Sang Khalik dengan segala keunikan dan karakteristik atau ciri khasnya masiing-masing. Hal ini dinamakan sebagai perbedaan individu (individual differences). Perbedaan individu adalah perbedaan kemampuan dan karakteristik (kognitif, kepribadian, keterampilan fisik, dan lain sebagainya) antar peserta didik pada jenjang usia tertentu dan dalam setiap kelompok tertentu. Melalui praktik dan aktivitas pendidikan, kita dapat mengakomodasi perbedaan individual para siswa. Demikian pula halnya gaya belajar antar satu sama lain juga berbeda. Ada yang gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Pentingnya untuk mengenali gaya belajar anak didik sehingga guru bisa memvariasikan gaya mengajar, metode pembelajaran yang cocok diterapkan dalam proses pembelajaran. Metode analisis yang dilakukan adalah studi pustaka, dengan cara mencari beberapa sumber yang telah diterbitkan oleh penulis/peneliti lain terkait dengan perbedaan individu dari gaya belajarnya. Sebagai pengajar kita harus mampu memilih berbagai cara/teknik yang dapat mengakomodasi perbedaan-perbedaan siswa secara personal dan mengoptimalkan kemajuan maupun kemampuan interpersonal masing-masing peserta didik dalam jangka panjang terutama jika ditinjau dari gaya belajarnya sehingga proses pembelajaran terlaksana secara optimal.

Kecanduan Game Online pada Remaja: Dampak dan Pencegahannya
Eryzal Novrialdy
2019· Buletin Psikologi200doi:10.22146/buletinpsikologi.47402

The problem of online game addiction demands public attention. Currently, many studies tend to be focused on efforts to reduce the level. However, there are very limited researches centered on discussing efforts to prevent this occurrence. This paper aims to examine various alternatives, in order to prevent this form of addiction, especially in adolescent’s that tend to be the most affected age group. In addition, there have been reports on its impact on several aspects of life, including health, psychologically, academically, socially and financially. Therefore, there is a need for preventive approaches, due to the impacts that disrupt the life of adolescents, which this paper is expected to identify. Furthermore, future research ought to focus on in depth examination of other alternatives to prevent online game addiction.

BLENDED LEARNING: A 21ST CENTURY LEARNING MODEL AT COLLEGE
Oskah Dakhi, Jalius Jama, Dedy Irfan, Ambiyar Ambiyar +1 more
2020· INTERNATIONAL JOURNAL OF MULTI SCIENCE183

The rapid advancement of information and communication technology in the 21st century is forcing teachers who teach students at every level of education to change their behavior and mindset, even committees that support them to achieve their teaching goals. The right approach is how one can integrate technology and education, i.e., through the Blended Learning Model. This model combines the usual online teaching and teaching classrooms. The strength of this model is that it can increase interaction between students anytime and anywhere. Rapidly growing technology integration has brought powerful changes to the education system and improved digital skills for students and lecturers. Technology can also influence how think, learn, and interact. Technological developments encourage educators to understand and utilize technology in learning and learning activities to create a dynamic learning environment.

Halal tourism: antecedent of tourist’s satisfaction and word of mouth (WOM)
Yunia Wardi, Abror Abror, Okki Trinanda
2018· Asia Pacific Journal of Tourism Research183doi:10.1080/10941665.2018.1466816

The concept of Halal tourism has emerged recently in research. It becomes an important factor in determining the satisfaction of tourists or their loyalty. However, this concept is still not well known; thus, it needs to be developed in certain areas. The research was conducted to see the link between the attributes of Halal tourism (i.e. Islamic facility, Halalness, general Islamic morality, and alcohol drinks- and gambling-free), satisfaction of tourists and word of mouth (WOM). The respondents of the research were 345 derived from 5 municipals in West Sumatera, Indonesia. The research used structural equation model. The result of the research shows that the attributes of Halal tourism have significant impacts on satisfaction of tourists and WOM. There is no significant direct relationship between the attributes of Halal tourism and WOM. However, the satisfaction of tourists is significant as the mediator. Furthermore, some limitations and future research are discussed.

Analisis Problema Pembelajaran Daring Terhadap Pendidikan Karakter Peserta Didik
Harri Jumarto Suriadi, Firman Firman, Riska Ahmad
2021· EDUKATIF JURNAL ILMU PENDIDIKAN181doi:10.31004/edukatif.v3i1.251

Pendidikan karakter merupakan perwujudan dalam mencapai generasi yang cerdas dan mampu memiliki akhlak dan kepribadian yang berguna bagi bangsa Indonesia. Suksesnya pendidikan dilihat dari seberapa besar karakter mereka ketika bisa menyeimbangkan kognitif, afektif dan psikomotornya untuk menjadi manusia yang sempurna. Pada tahun 2020 telah terjadi pandemi Covid – 19 yang menyebabkan semuanya berubah pembelajaran yang dilaksanakan disekolah berubah sesuai dengan aturan pemerintah dilaksanakan dirumah dengan daring atau belajar dengan jarak jauh. Penelitian yang dilakukan sekarang ialah deskriptif kualitatif dengan studi literatur yang berusaha memberikan gambaran solusi permasalahan pembelajaran daring terhadap pendidikan karakter peserta didik di sekolah menengah pertama. Naskah ini menampilkan problema pembelajaran daring, dampak pembelajaran daring terhadap pendidikan karakter peserta didik, solusi dan pemecahan masalah. Penelitian ini memakai studi pustaka / studi literatur, dengan mengkaji dari beberapa hasil penelitian, artikel, ebook dan studi kasus yang terjadi dilapangan.

Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka Dalam Pandangan Filsafat Pendidikan Humanisme
Nora Susilawati
2021· Jurnal Sikola Jurnal Kajian Pendidikan dan Pembelajaran178doi:10.24036/sikola.v2i3.108

Merdeka Belajar-Kampus Merdeka adalah kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang bertujuan mendorong mahasiswa agar menguasai berbagai keilmuan untuk memasuki dunia kerja. Kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka sesuai dengan Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Dalam pandangan humanisme, merdeka belajar memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar secara otonomi atau mandiri serta bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Mahasiswa berhak mengikuti pembelajaran di luar prodi dalam kampus dan luar kampus dalam berbagai kegiatan seperti pertukaran pelajar, magang/praktik kerja, asistensi mengajar di satuan pendidikan, penelitian, proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha, studi/proyek independen, dan membangun desa/Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT). Terlibatnya mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan tersebut dapat memberikan pengalaman belajar (experience learning) sebagai bekal menghadapi hidup dan kehidupan di masa depan. Untuk mewujudkan pengalaman belajar tersebut perguruan tinggi harus membangun kerjasama dengan dunia usaha/industri dan pemerintah. Kerjasama didasari dalam kerangka meningkatkan profesionalitas civitas akademika. Kerangka ini akan mempengaruhi perumusan kurikulum dalam penentuan capaian pembelajaran (learning outcomes) dan penempatan kuliah di luar perguruan tinggi. Kualitas belajar dan kebermaknaan belajar dapat dicapai dengan menerapkan prinsip belajar humanistik yaitu belajar bagaimana belajar (learning how to learn), pembelajaran mandiri, memotivasi diri, dan pendidikan afektif. Dengan demikian, tujuan pendidikan MBKM yang diharapkan untuk mengembangkan hard skills dan soft skills, menyiapkan mahasiswa lebih siap dan relevan dengan kebutuhan perkembangan zaman, menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian dapat dicapai secara optimal.

POLA PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER TERHADAP SISWA SEKOLAH DASAR
Murniyetti Murniyetti, Engkizar Engkizar, Fuady Anwar
2016· Jurnal Pendidikan Karakter175doi:10.21831/jpk.v6i2.12045

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pendidikan karakter terhadap siswa yangdilaksanakan oleh empat sekolah dasar berkategori unggul di Kota Padang Sumatera Barat. Penelitianmenggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus (qualitative case study design). Sumberdata penelitian diambil dari dua belas orang informan yang terdiri atas kepala sekolah, guru kelas,guru Pendidikan Agama Islam, guru seni dan guru olah raga yang dipilih dari empat sekolah dasartersebut menggunakan teknik purposive. Data penelitian diambil melalui wawancara secara mendalam(indepth interview) kepada seluruh informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapantema penting tentang pola pelaksanaan pendidikan karakter efektif yang dilaksanakan terhadap siswadi empat sekolah tersebut. Delapan tema tersebut dilaksanakan melalui: (1) materi pembelajaran; (2)aturan-aturan sekolah (disiplin, peduli lingkungan, tanggung jawab); (3) perlombaan sains antarsiswa(kreatif, gemar membaca, rasa ingin tahu); (4) ajang penghargaan siswa berprestasi (menghargai, kerja keras,demokratis, peduli); (5) peringatan hari kebangsaan (semangat kebangsaan, cinta terhadap tanah air,menghargai, peduli); (6) praktik ibadah dan bimbingan kerohanian (jujur, religius, tanggung jawab); (7)kegiatan pramuka (kreatif, peduli sosial, kerja keras, jujur, bersahabat, cinta damai demokratis); (8) adanyakelas talenta dan musik (kreatif dan bekerja keras, menghargai). Kata Kunci: pola, pendidikan karakter, siswa sekolah dasar PATTERNS OF CHARACTER EDUCATION OF PRIMARY SCHOOL STUDENTS Abstract: This study aims to determine the pattern of character education to students conducted by asuperior category of four elementary schools in the city of Padang, West Sumatra. The study used aqualitative method through a case study approach. Sources of data were taken from twelve informantsconsisting of the principal, classroom teacher, a teacher of Islamic education, art teacher andsports teacher selected from four elementary schools using purposive technique. Data were takenthrough in-depth interviews (depth interview) to all informants. The results showed that there areeight important themes on the pattern of implementation of effective character education conductedon students in four schools. Eight themes are carried through: (1) the learning materials; (2) the schoolrules (discipline, care for the environment, responsibility); (3) competition between students of science(creative, fond of reading, curiosity); (4) awards outstanding students (respect, hard work, democratic,caring); (5) commemoration day of nationality (the national spirit, love of the homeland, respect, care);(6) the practice of worship and spiritual guidance (honest, religious, responsibility); (7) scouting(creative, social care, hard working, honest, friendly, peace-loving democratic); (8) their talents andmusic classes (creative and work hard, respect).Keywords: pattern, character education, primary school students

Pengaruh Motivasi Terhadap Hasil Belajar Siswa SMK
Hendra Dani Saputra, Faisal Ismet, Andrizal Andrizal
2018· INVOTEK Jurnal Inovasi Vokasional dan Teknologi175doi:10.24036/invotek.v18i1.168

Penelitian bertujuan untuk melihat pengaruh motivasi terhadap hasil belajar siswa. Rendahnya hasil belajar dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa (faktor internal) dan faktor yang berasal dari luar diri siswa (faktor eksternal).Penelitian berfokus pada faktor internal yaitu motivasi belajar. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian bertujuan melihat besarnya tingkat hubungan antara dua variabel yaitu motivasi belajar siswa dengan hasil belajar siswa.Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling. Data penelitian didapat dari penyebaran angket yang diberikan kepada siswa. Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi penelitian sebesar 0,860 dengan α = 0,05 dan koofisien korelasi pada tabel (r tabel = 0,349) sehingga t hitung > t tabel dengan α = 0,05. Hal ini menunjukkan motivasi belajar mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan hasil belajar siswa.

MATHEMATICAL CONNECTION OF ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS TO SOLVE MATHEMATICAL PROBLEMS
Ary Kiswanto Kenedi, Yullys Helsa, Yetti Ariani, Melva Zainil +1 more
2019· Journal on Mathematics Education174doi:10.22342/jme.10.1.5416.69-80

This study aims to determine the mathematical connection ability of elementary school students in solving mathematical problems. This research uses the qualitative approach with descriptive method. We used observation, interview, and test to collect data. This study shows that 6.67% of the samples scored between 60 and 69 in the fair category. A total of 98 students or 81.67% scored between 45 and 59 who belonged to the below average category, and 14 students or 11.67% scored between 0 and 44 which were classified as a poor category. This result proves that the mathematical connection ability of elementary school students in solving mathematics problems is still low.